Posts

Sweet Sunday #40

Image
Hari minggu yang lalu tepatnya tanggal 6 Juli 2025, aku berkesempatan untuk menghabiskan waktu dengan Tiang Doaku, Separuh Jiwaku, Setengah Napasku, alias Ibuku. Beberapa bulan terakhir Ibuku tenggelam dalam lautan cinta kepada Drama Korea. Ibuku baru saja terjun kepada dunia perfilman penuh romansa tersebut namun sudah menyelami banyak sekali judul-judul drama tersebut, dan sudah mampu mengalahkanku yang notabenenya sudah menyukai Drama Korea sejak dahulu kala. Mencintai drama korea itu berarti mencintai visual yang ditawarkan di dalam alur cerita drama tersebut, salah satunya adalah makanannya yang mereka santap dalam cerita tersebut, dan pada akhirnya Ibuku mulai menyukai makanan korea walaupun pada saat itu Ibuku belum pernah mencicipinya. Hari minggu kemarin menjadi saatnya untuk Ibuku mencoba makanan yang selama ini hanya ia lihat di layar gadgetnya tersebut. Belum sampai di Korea maksudku, aku mengajak Ibuku ke salah satu restoran Korea yang ada di dekat rumahku, bernama: Naramy...

Perjalanan Pagi #39

Mulai dari bulan ketiga dari kedua belas bulan yang ada ini rutinitas dan perjalanan pagi ke menuju kantorku sudah berbeda. Ya itu karena tempat tinggalku yang baru. Sedikit lebih jauh dari yang sebelumnya, namun tak apa, ini untuk yang terbaik. Selama rute yang baru kutempuh beberapa hari ini terlihat biasa saja. Memakan waktu lima belas menit memang (memiliki selisih waktu sekitar 10 menit dari yang sebelumnya) namun tak kurasakan perbedaan yang merugikan atau menguntungkan buatku. Biasa saja seperti yang sudah kubilang sebelumnya. Namun pandanganku seakan berubah beberapa minggu terakhir ini karena mulai kusadari bahwa perjalanan yang kutempuh melewati banyak sekali sekolah-sekolah di sisi kanan dan kiri perjalanannya. Tak jarang kutemui banyak anak sekolah yang sedang berpergian ke sekolah. Mungkin karena hatiku sedang sensitif atau karena hatiku sedang melunak, perjalananku kali itu karena melihat banyak anak sekolah dan kegiatan berangkat sekolah mereka di pagi hari itu berbeda. ...

Air Mata Bekas Semalam #38

 Hari ini kembali kubangkit untuk beraktivitas seperti Senin biasanya. Lampu kamar mulai kunyalakan agar semangat mengisi relung jiwa.Tampak wajahku terlihat di cermin yang ada di dalam kamarku. Terlihat cerah namun sayu dan sendu pada waktu bersamaan. Mataku menatap nanar diriku sendiri. Tak sadar tanganku terayun memegang wajahku untuk mengusir ngantuk yang masih terasa, maklum saja karena itu masih terbilang subuh namun sudah harus bangun untuk memulai hari. Tanganku merajalela meraba wajahku, terasa sesak karena pedih itu masih ada di pipiku. Bertengger betah seakan mengingatkanku akan sakit hati sisa semalam. Air mata bekas semalam memilih untuk mengikutiku menjalani hari yang sebenarnya ingin aku hentikan sebentar sembari menyenangkan suasana hati. Air mata bekas semalam kerap mengetuk isi pikiranku akan rasa kecewa akan harapan yang selama ini sibuk kupupuk, dan hancur begitu saja karena sebuah pengkhianatan. Air mata bekas semalam adalah alasanku untuk kembali menulis tenta...

Agustus 2024 #37

 Hi! Bagaimana harimu? Tak terasa sudah memasuki bulan Agustus pada tahun 2024 Kalau mau kilas balik sebentar rasanya 2024 ini berjalan dengan sangat cepat ya? Tapi tak bisa dipungkiri banyak sekali yang terjadi dan ngga semuanya merupakan hal yang baik dan menyenangkan, banyak juga yang membuat air mata jatuh dan dengkul gemetar. Tapi here i am :) masih ada sampai saat ini tanpa kurang apapun. Perasaan lengkap dan penuh kan ngga harus selalu dilihat dari isi ATM yang berlimpah atau punya harta benda yang harga mahal banget, nggak harus kayak gitu — sesederhana sehat, bisa makan kenyang dan tidur nyenyak setiap hari, punya temen cerita, punya pekerjaan yang bisa dilakukan, itu juga udah termasuk lengkap dan penuh kok. Jadi, semangat ya menjalani Agustus ini!!!!!! Entah bakal kayak apa isinya, tapi aku harap, percaya, dan berdoa itu semua hal baik dan terjadi atas seijin dan seturut kehendak Tuhan. Kamu hebat. Kamu keren. Kamu mantab. Terima kasih sudah bertahan sampai hari ini...

Malam yang Dingin #36

Dingin memekik pada malam hari itu, siap untuk mencekik setiap insan yang dengan berani berkeliaran. Memang Malang beberapa hari ini cuacanya agak sedikit lebih ekstrim dari biasanya, rasanya salju siap turun jika memang mungkin. Tetapi sialnya di cuaca dingin ini, aku harus menginjakkan kakiku di salah satu supermarket di Malang karena persediaan makanan di kulkasku sudah habis total. Di Supermarket ini hanya ada aku, satu perempuan dan kasir yang siap melayani kami. Aku memilih dan mengambil bahan-bahan makanan berdasarkan catatan yang sudah kubuat sebelumnya, Setelah selesai, aku langsung agak sedikit berlari ke kasir agar bisa menyelesaikan belanjaanku dan pulang dan meringkuk di bawah selimut yang hangat. Tak ada yang aneh sepanjang perjalanan pulang, lagipula aku sudah tidak ada pikiran aneh-aneh. Aku hanya ingin sampai di rumah secepatnya. Sesampainya aku di rumah, aku langsung merapihkan belanjaan yang baru saja kubeli. Namun ku temukan satu bel...

Nirmala dan Cerita Cintanya #35

Nirmala selalu menjadi sosok peri yang baik hati. Yang entah kemana ia pergi, hadirnya selalu mengabulkan permintaan orang lain, tanpa harus saling kenal, tanpa harus saling sayang, Nirmala adalah sosok yang selalu baik. Sampai pada akhirnya saat pulang ke gubuk stroberinya pada malam hari, Nirmala merasa kesepian. Untuk pertama kalinya, Nirmala merasa butuh rumah untuk pulang dari aktivitas baiknya setiap hari. Ia hiraukan segala rasa sepi itu. Kembali Nirmala pada perannya ibu peri di besok hari. Dalam kegiatannya, Nirmala sedang menolong seorang pangeran yang terjatuh pada sebuah sumur. Namun anehnya pangeran ini sangat dingin bahkan saat dalam kondisi sedang membutuhkan bantuan. Telah berhasil Nirmala mengeluarkan pangeran tersebut dari sumur. Saat pangeran sudah berada di tanah yang sama dengan yang Nirmala pijak, luluhlah pangeran tersebut ketika melihat keteduhan sosok Nirmala. "Maaf ya, aku tidak memiliki respon dan sikap yang baik ketika aku dalam ket...

Berjalan bersama Hasrat #34

Beberapa minggu terakhir aku tak lagi meletakan jari jemariku di atas tuts keyboard laptopku untuk menulis. Bukan karena berbagai kata dan kalimat itu tidak lagi berterbangan bebas meluncur asal di otakku, namun rasanya aku kehilangan hasrat. Entah kemana perginya sebuah hasrat. Berjalan penuh pilu kemana tak tahu sehingga ditinggalkannya aku bersama dengan sebuah ketidakinginan untuk melakukan apapun. Yasudah begitu saja. Nanti lagi aku akan kembali dengan karya-karya segarku. Untuk sekarang ijinkan aku berpeluk sendu terlebih dahulu dengan seluruh kebingunganku.