Perjalanan Pagi #39
Mulai dari bulan ketiga dari kedua belas bulan yang ada ini rutinitas dan perjalanan pagi ke menuju kantorku sudah berbeda. Ya itu karena tempat tinggalku yang baru. Sedikit lebih jauh dari yang sebelumnya, namun tak apa, ini untuk yang terbaik.
Selama rute yang baru kutempuh beberapa hari ini terlihat biasa saja. Memakan waktu lima belas menit memang (memiliki selisih waktu sekitar 10 menit dari yang sebelumnya) namun tak kurasakan perbedaan yang merugikan atau menguntungkan buatku. Biasa saja seperti yang sudah kubilang sebelumnya.
Namun pandanganku seakan berubah beberapa minggu terakhir ini karena mulai kusadari bahwa perjalanan yang kutempuh melewati banyak sekali sekolah-sekolah di sisi kanan dan kiri perjalanannya. Tak jarang kutemui banyak anak sekolah yang sedang berpergian ke sekolah.
Mungkin karena hatiku sedang sensitif atau karena hatiku sedang melunak, perjalananku kali itu karena melihat banyak anak sekolah dan kegiatan berangkat sekolah mereka di pagi hari itu berbeda.
Ada yang sedang berpelukan di motor dengan salah satu orangtuanya atau mungkin walinya yang sedang mengantar mereka ke sekolah, ada yang sedang berinteraksi dengan ayahnya di kursi belakang di dalam mobil, ada yang sibuk tertawa sambil berjalan kaki dengan teman sebayanya, ada yang sibuk matanya menahan kantuk di atas motor karena jam masuk sekolah yang mungkin terbilang sangat pagi untuknya, ada yang mendengarkan musik sambil berlari ke arah sekolahnya.
Melihat semua itu, hatiku rasanya terenyuh. Betapa aku merindukan masa-masa yang sebenarnya bagiku tidak seindah itu. Tidak seindah itu karena tak lengkap orangtuaku kala itu (walaupun sampai sekarang 😅), tak seindah itu karena aku sibuk bersedih dan berusaha menerima kenyataan pahit kala itu, tidak seindah itu karena aku mempertahankan semua sifat burukku tanpa ingin mengintropeksi diri.
Ternyata aku merindukan bagaimana hidup sebagai anak sekolah dengan semua cemas dan ketakutan yang tidak sebesar itu, tanggung jawab yang tidak seharus itu untuk dikerjakan, dan rutinitas yang tidak ada hukuman beratnya jika tidak dilakukan.
Segala tawa dan canda semasa sekolah dahulu terasa nyata, kian yang sekarang hanya sebatas menutup luka.
Setelah semua ini, perjalanan pagi terasa seperti refleksi diri yang dimana hanya terisi rindu dan berusaha untuk tak mengulang segala pilu yang dulu.
Comments
Post a Comment