Malam yang Dingin #36

Dingin memekik pada malam hari itu, siap untuk mencekik setiap insan yang dengan berani berkeliaran.

Memang Malang beberapa hari ini cuacanya agak sedikit lebih ekstrim dari biasanya, rasanya salju siap turun jika memang mungkin.

Tetapi sialnya di cuaca dingin ini, aku harus menginjakkan kakiku di salah satu supermarket di Malang karena persediaan makanan di kulkasku sudah habis total.

Di Supermarket ini hanya ada aku, satu perempuan dan kasir yang siap melayani kami.

Aku memilih dan mengambil bahan-bahan makanan berdasarkan catatan yang sudah kubuat sebelumnya,

Setelah selesai, aku langsung agak sedikit berlari ke kasir agar bisa menyelesaikan belanjaanku dan pulang dan meringkuk di bawah selimut yang hangat.

Tak ada yang aneh sepanjang perjalanan pulang, lagipula aku sudah tidak ada pikiran aneh-aneh. Aku hanya ingin sampai di rumah secepatnya.


Sesampainya aku di rumah, aku langsung merapihkan belanjaan yang baru saja kubeli. Namun ku temukan satu belanjaan yang rasanya tak pernah kubeli tadi. Belanjaan itu adalah sisir. Namun bukan sisir biasanya, entah mengapa design-nya sangat jadul, tak seperti yang sedang trend saat ini berwarna-warni dan memiliki banyak motif-motif.

Aku menimang-nimang kapan pernah aku membeli sisir tersebut, namun karena sudah sangat lelah ku hiraukan sisir tersebut. Aku tetap berpikiran positif bahwa mungkin itu adalah sisir dari kasir tadi yang tidak sengaja terbawa di dalam belanjaanku.


"Ah! Akhirnya aku bertemu dengan kasur tercintaku dan selimut hangatku yang lucu karena berwarna pink, warna favoritku." kataku sambil meringkuk di bawah selimut.

Tak sadar aku pun terlelap dalam tidur.

Sampai suatu malam aku terbangun karena mendengar suatu suara yang cukup mengganggu,

Aku mendengar seseorang sedang menyisir rambut, aku tahu bahwa biasanya menyisir rambut tak mengeluarkan suara namun kali ini seperti ada rintihan dan bunyi sisir yang beradu,

Aku mengerjapkan mataku karena sejujurnya aku masih sangat mengantuk,

Hingga akhirnya mataku terbuka sempurna dan aku menyadari bahwa ada seseorang yang sedang duduk di depan meja riasku sambil menyisir rambutnya dengan sisir yang kutemukan tadi di belanjaanku,

Rambutnya sangat panjang terurai di lantai kamarku, bajunya putih namun sudah sangat kotor,

Aku menatap beku pada sosok yang sedang duduk di meja riasku, hingga sampailah tatapanku pada mata sosok tersebut, matanya merah menyala dan mulutnya menyeringai jahat, dan bola matanya melihatku seakan aku adalah jiwa kosong yang ia inginkan selama ini, sambil tetap melihat ke arahku sosok itu berkata;

"tolong sisir rambutku........ Lika" suaranya pelan dan penuh dengan rintihan menyebut namaku yang entah darimana ia mengetahuinya namun tidak ada perasaan lembut disana, hanya ada hawa jahat yang memenuhi kamarku.

Aku tercekat lalu aku tak sadarkan diri begitu saja.................

Comments

Popular posts from this blog

Sweet Sunday #40

Air Mata Bekas Semalam #38

Perjalanan Pagi #39