Tak Apa Untuk Sedikit Merasa #27
Tak Apa Untuk Sedikit Merasa
_______________________________________________________________
Menguap dengan lebar serta tertatih betul jalan seorang perempuan tersebut menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor di hari Senin pagi itu,
Rasanya lelah dan tidak bersemangat menjadi satu bercampur aduk membuat perempuan tersebut malas sekali melangkahkan kakinya untuk bersiap-siap.
Perempuan tersebut bernama Vana Ashana Lika, atau yang biasa disapa oleh teman-temannya sebagai Vana. Perempuan tersebut berumur 26 tahun, dan bekerja di salah satu perusahaan besar yang berada di Jakarta. Vana baru saja menyelesaikan pendidikan S1 nya beberapa tahun yang lalu di bidang Komunikasi.
Kehidupan Vana merupakan kehidupan seorang perempuan yang bisa dibilang biasa saja. Karena rutinitas Vana yang itu-itu saja, hanya berputar di kerja, hangout, pulang, dan berulang setiap harinya.
Vana merasa apa yang dimiliki dan dijalaninya sekarang adalah cukup. Berusaha keras mengisi kehampaan dalam dirinya dengan menyibukkan diri nyatanya tak membuat Vana selalu termenung di malam hari sebelum ia tertidur.
“Udah secapek ini, udah sehectic ini jadwal kehidupan gue tapi kok gue masih bisa ngerasain perasaan hampa itu ya?” gumam Vana sambil memeluk guling kesayangannya.
Vana selalu sampe di apartemennya pukul 11 malam paling cepat atau terkadang jika Vana ingin sengaja menghabiskan waktu diluar, ia pulang pukul 1 sampai 2 tengah malam agar ketika sampai di apartemennya Vana tak lagi memikirkan hal-hal aneh.
Namun perasaan semakin ditolak keinginannya, semakin besar pula ia bergejolak di dalamnya. Ditambah lingkungan Vana yang sudah penuh dengan undangan pernikahan dan baby shower yang dilakukan teman-temannya membuat Vana merasa apakah ia juga perlu seperti itu?
Vana menepis pikiran tak jelasnya itu, dan langsung menarik diri ke dalam selimut untuk segera tidur.
Bukan tanpa alasan bahwa Vana hingga umurnya yang sudah terbilang matang namun tetap menghindari sebuah percintaan. Ia melihat langsung bagaimana sebuah cinta memperlakukan hubungan kedua orangtuanya yang akhirnya mengharuskan Vana tinggal hanya bersama dengan ibunya. Ayahnya pergi entah kemana meninggalkan mereka berdua untuk mengarungi dunia ini.
Vana merasa cinta hanya akan menjadi beban untuk kehidupannya di masa yang akan datang, maka untuk menghindari hal tersebut dia lebih memilih untuk menjauhi kisah asmara.
Namun sampai pada suatu ketika, ayah Vana kembali datang ke kehidupannya. Setelah bertahun-tahun ayahnya memilih pergi, kini entah ada angin apa ayahnya kembali dengan tiba-tiba.
Bukan senang atau bahkan bahagia yang Vana rasakan, justru sesak di dada ingin ia teriakkan kepada dunia. Rasanya amarah yang selama ini ia simpan rapih bersama dengan pedih, ingin ia tumpahkan kepada ayahnya.
Vana pun pergi ke kantor dengan perasaan hancur dan sedih karena berita tersebut. Menangis menjadi teman perjalanan Vana kali ini. Karena sedang tidak fokus, Vana pun tidak sengaja menabrak seseorang dan akhirnya terjatuh.
Vana sudah siap dimarahi oleh orang yang ia tabrak itu sambil menutup matanya kencang-kencang dan menahan napas, namun justru malah pertanyaan dengan halus yang diajukan oleh pria yang Vana tabrak tersebut,
“Eh lo gapapa? Maaf maaf gue ga liat” tanya pria tersebut
Vana mengerjap tak percaya sambil melihat pria yang ada di depannya. Vana pun menangkap dua bola hazel yang dimiliki pria itu. Rasanya hangat jadi udara dominan saat itu. Tak terasa hanya karena pertanyaan sesederhana itu, Vana pun kembali meneteskan air mata. Ditanya bagaimana perasaan Vana merupakan pertanyaan yang paling ia butuhkan saat itu walaupun Vana tau bukan perasaannya yang dipertanyakan.
“Kok lo malah nanya keadaan gue? Padahal kan gue yang nabrak lo karena gue ga hati-hati jalannya” tanya Vana kepada pria tersebut sambil ia menyeka air matanya.
Pria itu berdiri dan sambil membantu Vana untuk berdiri juga, ia menjawab ;
“Bukan lo kok yang salah. Gue yang emang sengaja pengen lo tabrak. Karena gue liatin dari gerbong sampe mau keluar stasiun lo jalannya kayak mayat hidup gitu. Daripada lo nabrak orang yang harinya lagi sama kayak lo dan akhirnya kalian berantem jadi gue aja yang jadi korban biar lo bisa sadar lagi kalo lo masih di Bumi.” jelas pria tersebut sambil menjelaskan panjang lebar
Vana pun merasakan pipinya menghangat. Entah karena bingung mengapa pria di depannya itu sangat baik sehingga menawarkan diri untuk ia tabrak atau senang karena mendapatkan secuil perhatian dari pria yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.
Melihat Vana yang justru terdiam karena penjelasan pria itu, dia pun menjulurkan tangan terlebih dahulu untuk berkenalan ;
“Udah ga usah dipikirin. Jangan bengong lagi karena perkataan gue barusan. Kenalin nama gue Alaniah. Lo?”
“Gue Vana.”
“Oke Van. Salam kenal ya. Inget jangan bengong lagi. Semoga pertemuan kita selanjutnya lebih sedikit manis dari hari ini ya.” ucap Alan sambil berlalu meninggalkan Vana.
Walaupun dibuat bingung oleh Alan yang kesekian kalinya, Vana pun memilih melanjutkan perjalanannya ke kantor yang tertunda karena kelalaiannya sendiri.
Sampai di kantor, Vana pun langsung disambut oleh teman-temannya. Dalam obrolan seru yang mereka miliki, salah satu teman Vana yang bernama Tita memberi tahu bahwa kantor mereka memiliki beberapa karyawan baru pindahan dari kantor cabang yang ada di luar negeri, tak terlalu Vana hiraukan karena karyawan baru tersebut berada di divisi yang tidak berhubungan langsung dengan divisinya.
Sosok ayah Vana masih berusaha membuka pintu kehidupan seorang Vana yang sudah ia tutup untuk ayahnya bertahun-tahun lalu. Kejadian ini masih sering membuat Vana sedih, takut, dan banyak perasaan dan pikiran berkecamuk di dalam hidupnya.
Ditambah hari ini leader divisi Vana sedang cuti disaat banyak sekali dokumen yang harus ditandatangani. Namun Leader Divisi Vana, yang akrab disapa Pak Bar, sudah menitipkan stempel cap basah tanda tangan Pak Bar ke tetangga rumahnya yang kebetulan juga bekerja di perusahaan yang sama seperti mereka.
Dengan terpaksa Vana pun harus turun ke lantai 10 dari lantai 12 tempat ia bekerja untuk mengambil stempel tanda tangan Pak Bar.
Vana sudah bekerja selama 3 tahun di perusahaan itu, namun ia tetap merasa asing jika harus ke tempat divisi lainnya yang berbeda lantai tersebut. Saat sedang berjalan mencari ruangan tetangga Pak Bar yang ternyata menjabat juga menjadi Leader pada divisi tersebut, Vana menangkap dua buah bola mata hazel yang sempat menjadi isi pikirannya beberapa hari terakhir walaupun tak sering.
Alaniah, ia disana. Pria itu sedang duduk tegap memandang layar monitor di depannya dengan serius.
Vana pun terpaku melihatnya. Entah sulap atau sihir apa yang Alan gunakan, Vana pun tersihir.
Namun lamunan Vana dibuyarkan karena seorang pegawai dari divisi tersebut yang menanyakan apa yang Vana lakukan di lantai itu. Setelah dibantu oleh salah satu pegawai dari divisi tersebut, Vana pun akhirnya mendapatkan stempel tanda tangan milik Pak Bar.
Di tengah perjalanan Vana menuju lift, sesekali matanya mencari Alaniah yang masih duduk serius menatap monitor bercahaya di depannya.
Tersenyum kecil Vana dibuatnya.
Jam pulang kantor pun tiba. Rasanya pegal menjalar di seluruh badan Vana. Tak sabar ia ingin cepat-cepat sampai di apartemennya untuk beristirahat.
Tapi kembali matanya bertabrakan dengan sosok yang akhir-akhir ini Vana idamkan. Walaupun kesal dengan rasanya, takut dengan akibatnya, Vana pun tetap terlena dengan debar jantungnya saat hanya sekedar melihat Alaniah.
Namun kali ini bukan hanya Vana yang diam-diam melirik malu.
Alaniah disana, berdiri tegap seakan sudah menunggu kedatangan Vana. Dengan kemeja hitam yang digulung berantakan sampai lengan, mata hazel yang menatap teduh si Vana, hingga celana bahan coklat dan lengkap dengan sepatu pantofel yang ia kenakan, rasanya tak ada lagi yang lebih dahsyat daripada pemandangan Vana saat itu.
Melangkah pasti Vana ke hadapan Alaniah. Hanya berjarak beberapa centimeter saja antara mereka berdua.
Vana tau rasa takutnya akan sebuah cinta besar, namun entah mengapa rasanya kepada Alaniah jauh lebih besar. Pertama kali dengan sebuah cinta Vana diperkenalkan dengan “jatuh cinta pada pandangan pertama” yang menurut orang pada umumnya adalah fana.
Alaniah tersenyum tipis melihat perempuan di hadapannya ;
“Saat kita tabrakan di stasiun kereta beberapa hari yang lalu, itu adalah hari pertama gue masuk kerja disini sebagai karyawan pindahan dari kantor cabang yang ada di luar negeri. Walaupun pertemuan pertama kita tragedi, tapi entah kenapa rasanya kok nenangin sekaligus nyenengin buat gue. Sampe akhirnya lo dateng ke divisi gue, walaupun gue tau itu bukan disengaja tapi tetap rasanya gue mau lompat sangking senengnya. Kalo lo bingung gue tau dari mana, itu karena karyawan yang bantuin lo dapetin stempel tanda tangan adalah temen sebelah gue di kantor dan dia cerita kalo lo ngeliatin gue sampe diem kayak patung gitu. Gue nyesel banget di hari itu karena gue terlalu serius ngelihat monitor, dibandingkan ngelihatin lo” jelas Alaniah untuk pertemuan tak terduga antara mereka yang berurutan.
“Lan, gue takut. Cinta yang gue kenal, cinta yang gue tau, cinta yang pertama gue harusnya rasain itu ngga indah. Gue tau kesenangan gue sekarang terhadap lo cuman pelarian atas sedihnya gue ke bokap.” ucap Vana sambil menitihkan air mata.
Vana benci menjadi sosok yang lemah di hadapan pria. Pria yang dimana Vana ketahui adalah ayahnya yang tega meninggalkan ia dan ibunya. Vana benci menjadi seseorang yang ia tahu karena perbuatannya sendiri mungkin ia akan berakhir seperti ibunya.
“Kalo susah maafin seseorang, coba teriak yang kenceng sambil ngomong semua perasaan yang lo pendem selama ini. Biar otak sama hati lo denger apa yang lo simpen selama ini. Dirasain semuanya, diluapin seluruhnya, biar habis semua yang ada di dalam. Manusiawi kok Van untuk menerima dan merasa tuh.” tutur Alaniah dengan lembut.
Vana pun menangis sambil menggigit bibirnya agar tak menimbulkan efek getaran berlebih pada badannya karena menangis.
Alaniah pun memeluk Vana sambil berkata pelan ;
“Sama halnya juga kayak cinta Van. Kalo lo udah seneng hanya karena ngelihat seseorang, nikmatin aja rasa senangnya. Cinta tuh indah tau. Iya kan? Sama kayak kita sekarang. Sesederhana gue ngelihat lo aja rasanya banyak kupu-kupu berterbangan di perut gue. Senyum lo yang diem-diem gue perhatiin ternyata bisa jadi obat semangat buat gue setiap harinya” kata Alaniah sambil menatap dalam kedua bola mata Vana.
Jadi sebuah cinta adalah yang indah. Menengadahnya cinta ke dalam dua insan. Berharap berpegangan erat pada sebuah kasih hingga rambut memutih. Walaupun diisi dengan banyak cemas dan teriakan, semoga itu tak pernah menjadi sebuah kehilangan.
Comments
Post a Comment